BUAH SAWO

S A W O
( Acrhras zapota. L )
1. SEJARAH SINGKAT
Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah berupa yang
berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Namun di
Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran
rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dpl, seperti di Jawa dan Madura.
2. JENIS TANAMAN
Tanaman sawo dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Sub Divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)
Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)
Ordo : Ebenales
Famili : Sapotaceae
Genus : Achras atau Manilkara
Spesies : Acrhras zapota. L sinonim dengan Manilkara achras
Kerabat dekat sawo dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Sawo Liar atau Sawo Hutan
Kerabat dekat sawo liar antara lain: sawo kecik dan sawo tanjung. Sawo kecik
atau sawo jawa (Manilkara kauki L. Dubard.) Sawo kecik dimanfaatkan sebagai
tanaman hias atau tanaman peneduh halaman. Tinggi pohon mencapai 15 – 20
meter, merimbun dan tahan kekeringan. Kayu pohonnya sangat bagus untuk
dibuat ukiran dan harganya mahal. Sawo tanjung (Minusops elingi) memiliki buah
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 2/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, jarang dimakan, sering digunakan
sebagai tanaman hias, atau tanaman pelindung di pinggir-pinggir jalan.
2) Sawo Budidaya
Berdasarkan bentuk buahnya, sawo budidaya dibedakan atas dua jenis, yaitu:
a. Sawo Manilas
Buah sawo manila berbentuk lonjong, daging buahnya tebal, banyak
mengandung air dan rasanya manis. Termasuk dalam kelompok sawo manila
antara lain adalah: sawo kulon, sawo betawi, sawo karat, sawo malaysia, sawo
maja dan sawo alkesa.
b. Sawo Apel
Sawo apel dicirikan oleh buahnya yang berbentuk bulat atau bulat telur mirip
buah apel, berukuran kecil sampai agak besar, dan bergetah banyak. Termasuk
dalam kelompok sawo apel adalah: sawo apel kelapa, sawo apel lilin dan sawo
Duren
3. MANFAAT TANAMAN
Manfaat tanaman sawo adalah sebagai makanan buah segar atau bahan makan
olahan seperti es krim, selai, sirup atau difermentasi menjadi anggur atau cuka.
Selain itu, manfaat lain tanaman sawo dalam kehidupan manusia adalah:
1) Tanaman penghijauan di lahan-lahan kering dan kritis.
2) Tanaman hias dalam pot dan apotik hidup bagi keluarga;
3) Tanaman penghasil buah yang bergizi tinggi; dan dapat dijual di dalam dan luar
negeri yang merupakan sumber pendapatan ekonomi bagi keluarga dan negara;
4) Tanaman penghasil getah untuk bahan baku industri permen karet;
5) Tanaman penghasil kayu yang sangat bagus untuk pembuatan perabotan rumah
tangga.
4. SENTRA PENANAMAN
Pengembangan budidaya sawo sudah meluas hampir di seluruh Indonesia. Pada
tahun 1990 areal penanaman sawo terdapat di 22 propinsi, kecuali N.T.T, Maluku,
Irian Jaya, dan Timor Timur. Provinsi yang termasuk katagori lima besar sentra
produsen sawo pada tahun 1993 adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I.
Yogyakarta, dan Kalimantan Barat.
Produksi dan perdagangan mancanegara sawo manila sangat populer di Asia
Tenggara. Data statistik menunjukkan bahwa wilayah Asia Tenggara merupakan
produsen utama buah sawo manila ini. Pada tahun 1987, Thailand menghasilkan
53.650 ton dari jumlah 18.950 ha, Filipina menghasilkan 11.900 ton dari lahan 4.780
ha, dan Semenanjung Malaysia menghasilkan 15.000 ton dari lahan 1.000 ha.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 3/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1) Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai
kering.
2) Curah hujan yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan
2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah
dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau
membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun.
3) Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari
namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).
4) Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 derajat C.
5.2. Media Tanam
1) Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir
(latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik.
Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk
ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), alluvial loams (daerah
aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman
sawo adalah antara 6–7.
3) Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu
antara 50 cm sampai 200 cm.
5.3. Ketinggian Tempat
Tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai
dengan ketinggian 1.200 m dpl. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga
tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran
rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Bibit
Saat ini tanaman sawo sudah dapat dikembangkan dalam dua tempat, yaitu di
kebun dan di dalam pot. Bibit yang dipilih sebaiknya bibit yang berasal dari
cangkok atau sambung, sebab bibit yang berasal dari biji lambat dalam
menghasilkan buah. Bibit dipilih yang sehat dengan daun yang kelihatan hijau
segar dan mengembang sempurna serta bebas hama dan penyakit. Bibit dari
cangkok dipilih yang memiliki cabang atau ranting yang bagus dan sehat.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 4/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
2) Penyiapan Bibit
Untuk memperoleh bibit tanaman sawo ada beberapa cara, misalnya dari biji,
sambung, dan cangkok.
a) Pembenihan biji
Perbanyakan tanaman sawo secara generatif dengan biji memiliki keunggulan
dan kelemahan. Bibit yang berasal dari biji memiliki perakaran yang kuat dan
dalam. Akan tetapi perbanyakan secara generatif hampir selalu memberikan
keturunan yang berbeda dengan induknya karena ada pencampuran sifat
kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis. Tanaman sawo yang berasal
dari biji mulai berbuah pada umur ± 7 tahun. Teknik pembibitan tanaman sawo
dari biji melalui tahap tahap sebagai berikut:
1. Pemilihan buah
Pilih buah tua yang matang di pohon, sehat, bentuknya normal dan berasal
dari pohon induk varietas unggul yang telah berbuah.
2. Pengambilan biji
- Belah buah menjadi beberapa bagian.
- Ambil dan kumpulkan biji-biji sawo yang baik saja, kemudian tampung
dalam wadah.
- Cuci dalam air yang mengalir atau air yang disemprotkan sampai biji
benar-benar bersih.
- Keringkan biji selama 3 hari sampai 7 hari agar kadar air biji berkisar
antara 12-14%.
- Masukkan biji ke dalam wadah tertutup rapat untuk disimpan beberapa
waktu.
3. Pengecambahan benih
- Siapkan bak pengecambahan yang telah diisi media pasir bersih setebal
10–15 cm.
- Sebarkan biji sawo pada permukaan media, kemudian tutup dengan pasir
setebal 1–2 cm.
- Siram media dalam bak pengecambahan dengan air bersih hingga cukup
basah.
- Tutup permukaan bak pengecambahan dengan lembaran plastik bening
(tembus cahaya) untuk menjaga kestabilan kelembaban media.
- Biarkan biji berkecambah ditempat yang teduh selama 7 hari sampai 15
hari. Biji sawo yang telah berkecambah atau keluar akar sepanjang 2-5
mm dapat segera dipindahsemikan.
b) Bibit Asal Enten (Grafting)
Penyambungan tanaman sawo sebagai batang atas dilakukan dengan tanaman
ketiau atau melali (Bassia sp.) sebagai batang bawahnya. Metoda
penyambungan yang dilakukan adalah metoda sambung pucuk (top grafting).
Tata laksana memproduksi bibit sawo dengan cara sambung pucuk (top
grafting) adalah sebagai berikut:
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 5/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
1. Persiapan
Siapkan alat dan bahan berupa pisau tajam, tali rafia atau lembar plastik,
gunting, kantong plastik bening, batang bawah melali atau bassia umur 3-6
bulan atau berdiameter batang 0,3–0,7 cm, dan cabang atau tunas entres.
2. Pelaksanaan sambung pucuk
- Potong ujung batang tanaman bassia pada ketinggian 15–20 cm dari
permukaan tanah.
- Sayat batang bawah membentuk celah atau huruf V sepanjang 3–5 cm.
- Sayat cabang entres sepanjang 4 cm membentuk baji seukuran sayatan
batang bawah dan buang sebagian daunnya.
- Masukkan pangkal cabang entres ke celah batang bawah hingga pas
benar.
- Ikat erat-erat hasil sambungan tadi dengan tali rafia atau lembaran plastik.
- Kerudungi hasil sambungan dengan kantong plastik bening selama 10-15
hari.
3. Pengakhiran
Hasil sambungan dapat diperiksa setelah 10 hari sampai 15 hari kemudian.
Caranya adalah dengan membuka kerudung kantong plastik, kemudian mata
entres atau bidang sambungan diperiksa. Jika mata entres berwarna hijau
dan segar berarti penyambungan berhasil. Sebaliknya, bila mata entres
berwarna coklat dan kering berarti penyambungan gagal.
c) Bibit Cangkok
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cangkok paling umum
dipraktekkan oleh pembibit tanaman tahunan, khususnya buah-buahan.
Kelemahan bibit cangkok adalah sistem perakaran kurang kuat karena tidak
memiliki akar tunggang. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cangkok,
antara lain adalah sebagai berikut: (1) cangkok mempercepat kemampuan
berbuah karena pada umur kurang dari satu tahun tanaman sudah mulai
berbunga atau berbuah; (2) cangkok memperoleh kepastian kelamin serta sifat
genetiknya sama dengan pohon induk; (3) Habitus tanaman pada umumnya
pendek (dwarfing) sehingga memudahkan pemeliharaan dan panen. Tata
laksana pembibitan tanaman sawo dengan cangkok adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa atau lembaran
plastik, tali pembalut, kotak alat, tali, media atau campuran tanah subur
dengan pupuk kandang (1:1), dan cabang yang cukup umur.
2. Pelaksanaan mencangkok
- Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar,
tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak
cacat, serta lurus.
- Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.
- Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.
- Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.
- Kerik kambium hingga tampak kering.
- Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 6/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
- Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar, seperti Rootone
F.
- Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.
- Letakkan media pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk
bulatan setebal ± 6 cm.
- Bungkus media dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.
- Ikat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.
- Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, dan buat lubang-lubang kecil
dengan cara ditusuk-tusuk lidi.
3. Pemotongan bibit cangkok
Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari
pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang
keratan.
4. Pendederan bibit cangkok
- Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran
bibit cangkok.
- Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang
matang (1:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.
- Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.
- pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk
mengurangi penguapan.
- Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur
perakarannya secara hati-hati.
- Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan
pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.
- Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.
- Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.
- Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi
dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.
- Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun
atau dalam pot.
5. Pengakhiran
Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian.
Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan,
pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat
menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.
3) Teknik Penyemaian Benih
a) Pembuatan media persemaian
Persemaian dapat dilakukan pada bedengan persemaian atau menggunakan
polybag. Tata laksana penyiapan lahan persemaian berupa bedengan adalah
sebagai berikut:
1. Buat bedengan persemaian berukuran 100-150 cm, tinggi 30-40 cm, panjang
tergantung keadaan lahan, dan jarak tanam antar bedengan 50-60 cm.
2. Sebarkan pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2 sampai 3 kg/m2 luas bedengan,
lalu campurkan merata dengan lapisan tanah atas.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 7/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
3. Buat tiang-tiang persemaian setinggi 100-150 cm di sebelah dan 75-100 cm
di sebelah barat, kemudian pasang palang-palang dan atap persemaian
yang terbuat dari plastik atau daun kering.
4. Ratakan dan rapikan bedengan persemaian, lalu siram dengan air bersih
hingga cukup basah.
Tata cara penyiapan tempat semai dalam polybag adalah sebagai berikut:
1. Siapkan polybag berdiameter 10-15 cm, media campuran tanah subur,
pupuk kandang halus (diayak), dan pasir (1:1:1), atau campuran tanah
dengan pupuk kandang (1:1).
2. Lubangi bagian dasar polybag untuk pembuangan air.
3. Isikan media ke dalam polybag hingga cukup penuh.
4. Simpan polybag yang telah diisi media di tempat yang rata mirip bedengan
dan diberi naungan.
b) Penyemaian
1. Semaikan biji sawo yang sudah berkecambah (7-15 hari setelah tahap
pengecambahan biji) pada bedengan penyemaian atau dalam polybag
sedalam 1-2 cm. Jarak semai antar biji yang disemai pada bedengan
penyemaian diatur 10 cm x 10 cm atau 15 cm x 15 cm. Penyemaian dalam
polybag cukup diisi satu butir biji sawo tiap polybag.
2. Siram media dengan air bersih hingga cukup basah.
3. Biarkan biji tumbuh menjadi bibit muda.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Tata laksana pemeliharaan bibit dalam tempat penyemaian adalah sebagai
berikut:
a) Lakukan penyiraman secara kontinu tiap hari 1 kali sampai 2 kali, atau
tergantung pada cuaca dan keadaan media.
b) Pupuklah tanaman muda tiap 1 bulan sampai 3 bulan sekali dengan pupuk NPK
(15-15-15 atau 16-16-16) sebanyak 10 gram sampai 25 gram, yang dilarutkan
dalam 10 liter air untuk disiramkan pada media.
c) Lakukan penyemprotan pestisida bila ditemukan serangan hama dan penyakit
dengan menggunakan dosis rendah (30-50% dari dosis anjuran).
d) Pindah tanamkan bibit dari bedengan persemaian secara cabutan ke dalam
polybag, atau dari polybag lama ke polybag baru yang ukurannya lebih besar.
e) Pelihara bibit sawo sampai cukup besar atau setinggi 50-100 cm untuk siap
ditanam.
5) Pemindahan Bibit
Bibit sawo yang telah siap dipindahkan adalah bibit yang telah mencapai
ketinggian 50-100 cm.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 8/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Penetapan areal untuk perkebunan sawo harus memperhatikan faktor kemudahan
transportasi dan sumber air.
2) Pembukaan Lahan
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.
6.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Untuk tujuan mendapatkan buah yang banyak, menanam sawo di kebun memang
lebih tepat. Penanaman tidak hanya dilakukan dengan satu atau dua buah pohon,
tetapi dalam jumlah yang banyak.
Tanaman sawo di kebun dapat tumbuh besar dengan tajuk yang lebar. Mengingat
hal ini maka penanaman sawo harus dilakukan dengan jarak yang tidak terlalu
rapat antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Jarak tanam untuk
sawo yang dianggap cukup adalah 12 m x 12 m. Dengan jarak tanam seperti ini,
antara tanaman sawo yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan yang dapat
mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan
pada waktu musim penghujan.
2) Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih
baik bagi bibit yang akan ditanam. Untuk itu tanah tempat penanaman dalam
lubang tanam haru gembur karena sistem perakaran bibit yang masih lemah.
Lubang tanam untuk sawo dapat dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.
Tanah galian bagian atas ± 30 cm dipisah dengan tanah bagian bawah. Keduanya
kemudian dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 kg sampai rata. Pupuk
kandang ini berfungsi sebagai pupuk dasar. Selama dua minggu lubang tanam ini
dibiarkan terjemur sinar matahari.
Bila bibit telah siap, bisa langsung ditanam di lubang tanam. Tetapi bila bibit belum
siap tanam, maka tanah galian bagian bawah dikembalikan ke bawah dan tanah
galian atas dikembalikan ke bagian atas. Sebagai tanda bahwa di tempat itu ada
lubang tanam, dapat ditandai dengan kayu yang ditancapkan pada lubang
tersebut. Setelah bibit siap tanam maka lubang tanam digali lagi.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 9/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
3) Cara Penanaman
Sebelum ditanam, pembungkus (polybag) harus dilepas dengan hati-hati agar
tanahnya tidak berantakan dan perakaran tidak rusak. Penanaman dilakukan
sedalam leher akar tegak di tengah lubang tanam.Masukkan tanah bagian atas
bekas galian lebih dahulu, baru disusul tanah bagian bawah bekas galian. Tanah
di sekeliling akar tanaman dipadatkan agar tidak terjadi rongga-rongga udara yang
dapat menyulitkan akar mencari makan.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penyiangan
Setelah satu bulan sampai dua bulan tanam, perlu dilakukan penyiangan tanaman
sawo untuk membersihkan rumput dan gulma yang menggangu. Jika tanaman
sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih
kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo.
Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan
pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan
dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya
dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu
pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan.
2) Pembubunan
Pada saat melakukan penyiangan tanaman sawo, dapat juga dilakukan
pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk
menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang
tumbuhnya.
3) Pemupukan
Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gram urea/pohon/tahun
sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang
pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi
untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun.
Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan
pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang
kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gram per pohon tiap
tahun. Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, DS, dan KCl sebanyak
108 gram, 277 gram, dan 144 gram. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk
mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga
dan buah supaya tidak mudah gugur.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 10/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap
tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun. Selain urea dan NPK
yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk
memperbaiki struktur tanah. Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan dua kali
dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan
setengah dari yang disebutkan di atas.
Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di
bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm.
Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20
cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang.
4) Penyiraman
Pada awal tanaman sawo memulai kehidupannya, perlu dilakukan penyiraman
paling sedikit dua minggu sekali jika tidak ada hujan. Pemberian air pada tanaman
sawo perlu dilakukan sampai tanaman berumur 3-4 tahun. Semakin tua tanaman,
semakin tahan terhadap kekeringan.
Kekurangan air pada waktu tanaman sawo sedang berbunga atau berbuah dapat
menyebabkan bunga atau buah mudah gugut. Pemberian air yang baik dan
teratur akan menghasilkan buah dengan jumlah dan kualitas yang baik.
5) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan dengan pestisida atau insektisida dapat dilakukan jika pada
tanaman sawo terdapat hama dan penyakit yang menyerangnya, yaitu:
a) Penyemprotan dengan insektisida jenis Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4
cc/liter air untuk membunuh lalat buah (Ceratitis capitata atau Dacus sp.).
b) Penyemprotan dengan insektisida jenis Diasinon 60 EC dengan dosis 1-2
cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air untuk membunuh kutu
hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan kutu coklat (Saissetia nigra)
yang menyerang ranting muda dan daun-daun tanaman sawo yang
menyebabkan ranting dan daun mengkerut, layu, kering, dan terhambat
pertumbuhannya.
c) Penyemprotan dengan fungisida Cuspravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air
setiap tiga minggu sekali untuk mengatasi dan mencegah serangan jamur upas
yang disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor.
d) Penyemprotan dengan fungisida Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air
atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air untuk mengatasi
penyakit jamur jelaga yang disebabkan oleh jamur Capnodium sp.
Penyemprotan dengan fungisida Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4
gram/liter air untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh jamur
Phytopthora valmivora Butl. Yang menyebabkan busuk buah sawo.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 11/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6) Pemangkasan
Jika dibiarkan tumbuh secara alami, tanaman sawo dapat mencapai ketinggian 20
m. Pohon dengan ketinggian seperti itu akan menyulitkan dalam pemetikan buah.
Agar tanaman sawo tidak terlalu tinggi, maka dilakukan pemangkasan.
Pemangkasan juga bertujuan membentuk sistem percabangan yang baik dan
kuat.
Ada dua tahap pemangkasan pada tanaman sawo, yaitu pemangkasan bentuk
dan pemangkasan pemeliharaan.
a) Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengatur tinggi rendah dan bentuk tajuk
untuk memudahkan dalam pemetikan buah serta pengontrolan terhadap hama
dan penyakit.
Pemangkasan pertama dilakukan ketika tanaman telah mencapai tinggi 100-
160 cm. Pemangkasan dilakukan pada musim penghujan dengan memotong
ujung batang hingga ketinggiannya tinggal 75-150 cm. Tempat pemangkasan
harus sedikit di atas ruas batang. Untuk mencegah penyakit, luka bekas
pangkasan dapat ditutup dengan cat meni atau parafin. Beberapa hari setelah
pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru. Tiga dari tunas yang tumbuh
sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan tunas
lainnya dibuang.
Pemangkasan ke dua dilakukan pada awal musim penghujan berikutnya, tunas
yang telah berumur satu tahun dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 25-40
cm. Pemangkasan ini dilakukan tepat di atas mata tunas. Akibat pemangkasan
ini akan muncul tunas-tunas baru. Tiga sampai empat tunas yang sehat
dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong.
Pemangkasan ke tiga yang merupakan pemangkasan terakhir dilakukan pada
awal musim penghujan berikutnya, cabang-cabang sekunder dipotong untuk
membentuk cabang-cabang tersier. Pemotongan dilakukan sampai jumlah
cabang-cabang sekunder tinggal dua pertiganya. Setelah pemangkasan ini
akan muncul tunas-tunas baru. Dua atau tiga tunas dari masing-masing cabang
sekunder dibiarkan tumbuh, yang lainnya dibuang setelah tumbuh sepanjang
10 cm.
b) Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk mencegah serangan penyakit,
menumbuhkan tunas baru untuk mengganti cabang tua yang tidak berproduktif
lagi, serta mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat dimasukkan
ke mahkota tajuk.
Dalam pemangkasan ini yang perlu dipangkas adalah cabang-cabang air yaitu
cabang-cabang yang tumbuh lurus ke atas dengan kecepatan pertumbuhan
lebih besar dibandingkan cabang-cabang lain. Warna cabang air ini lebih muda
dengan jarak antar ruas cabang yang lebih panjang. Selain cabang air yang
perlu dihilangkan adalah cabang yang tumbuh liar, cabang yang sakit atau
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 12/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
rusak, dan cabang yang terlalu rendah. Pemangkasan pemeliharaan ini dapat
dilakukan setiap saat jika diperlukan.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Lalat buah(Dacus sp.)
Gejala: terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam atau cokelat pada permukaan
kulit, tetapi dagin buah sudah membusuk. Pengendalian: (1) membersihkan
(sanitasi) sisa-sisa tanaman di sekitar tanaman dan kebun; (2) membungkus buah
sejak stadium muda; (3) memasang perangkap lalat buah yang mengandung
bahan metyl eugenol, misalnya M-Atraktan, dalam botol plastik bekas; (4)
menyemprotkan perangkap lalat buah, seperti Promar yang dicampur dengan
insektisida kontak atau sistemik; (5) menginfus akar tanaman dengan larutan
insektisida sistemik, seperti Tamaron, dengan konsentrasi 3-5% pada fase
sebelum berbunga; (6) menyemprot tanaman dengan insektisida kontak, seperti
Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4 cc/liter air.
2) Kutu hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan Kutu cokelat(Saissetia nigra)
Menyerang ranting muda dan daun tanaman sawo dengan cara menghisap cairan
yang terdapat di dalamnya. Selain menghisap cairan, kutu-kutu ini juga
menghasilkan embun madu yang dapat mengundang kehadiran cendawan jelaga.
Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, seperti Diasinon 60 EC dengan
dosis 1-2 cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air yang
disemprotkan langsung ke kutu-kutu tersebut.
7.2. Penyakit
1) Jamur upas
Penyebab: jamur Corticium salmonocolor. Spora dari jamur ini menular kemanamana
oleh hembusan angin. Gejala: (1) Stadium rumah laba-laba, yaitu ditandai
dengan munculnya meselium tipis berwarna mengkilat seperti sutera atau perak.
pada stadium ini jamur belum masuk ke dalam kulit tanaman sawo; (2) Stadium
bongkol, yaitu stadium dimana jamur membentuk gumpalan-gumpalan hifa di
depan lentisel; (3) Stadium corticium, yaitu stadium dimana jamur membentuk
kerak berwarna merah muda yang berangsur-angsur berubah menjadi lebih muda
lalu menjadi putih. Kerak yang terbentuk terdiri dari lapisan basidium yang pada
setiap basidiumnya terdapat basidiospora. Kulit tanaman sawo yang terdapat di
bawah kerak tersebut akhirnya busuk; (4) Stadium necator, yaitu stadium dimana
jamur membentuk banyak piknidium yang berwarna merah. Piknidium ini terdapat
pada sisi cabang atau ranting yang lebih kering. Pengendalian: (1) Pada stadium
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 13/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
laba-laba, penyakit ini dapat diatasi dengan cara menggosok tempat yang
terserang jamur sampai hilang. Bekas luka gosokan diolesi dengan cat meni, ter,
atau carbolineum; (2) Penyemprotan dengan fungisida yang mengandung
tembaga berkadar tinggi seperti Cupravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air
setiap tiga minggu sekali untuk menghindari munculnya serangan lagi; (3)
Pemotongan pada bagian tanaman yang terserang apabila jamur sudah mencapai
stadium bongkol, corticium, atau necator. Pemotongan dilakukan pada bagian
yang sehat jauh dari batas bagian yang sakit. Bagian yang dipotong kemudian
diolesi dengan fungisida dan dibakar.
2) Jamur jelaga
Penyebab: jamur Capnodium sp. Gejala: serangan jamur ini berupa warna hitam
seperti beludru yang menutupi permukaan daun sawo. Serangan lebih lanjut dapat
menutupi seluruh daun dan ranting tanaman sawo.Jika serangan jamur ini
berjumlah banyak, proses fotosintesa tanaman sawo akan terganggu sehingga
pertumbuhan terhambat. Serangan yang terjadi pada saat tanaman berbunga
dapat mengakibatkan buah yang terbentuk hanya sedikit. Jika yang terserang
adalah buah, dapat menyebabkan kerontokan atau berkurangnya kualitas buah.
Pengendalian: (1) melenyapkan serangga yang menghasilkan embun madu
terlebih dahulu dengan insektisida; (2) dilakukan penyemprotan dengan fungisida
seperti Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air atau Dithane M-45 80 WP
dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air.
3) Busuk buah
Penyebab: jamur Phytopthora palmivora Butl. Gejala: mula-mula kulit buah
berbercak-bercak kecil berwarna hitam atau cokelat, kemudian melebar dan
menyatu secara tidak beraturan, daging buah membusuk dan berair, serta
kadang-kadang buah berjatuhan (gugur). Pengendalian: (1) dengan cara
pemotongan buah yang sakit berat, pengumpulan dan pemusnahan buah yang
terserang; (2) penyemprotan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP dengan dosis
1,8 gr – 2,4 gram/liter air.
4) Hawar benang putih
Penyebab: jamur (cendawan) Marasmius scandens Mass, yang tumbuh pada
permukaan batang dan cabang tanaman sawo. Gejala: daun-daun mengering dan
berguguran. Pada ranting yang mengering terdapat benang-benang jamur
berwarna putih. Pengendalian: (1) dengan cara mengurangi kelembaban kebun,
memotong bagian tanaman yang sakit berat; (2) mengoleskan atau
menyemprotkan fungisida, seperti Benlate dengan dosis 2 gr/1 air.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 14/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Tanaman sawo yang dikembangbiakkan dengan pencangkokan dapat
menghasilakan buah hanya sampai 3-5 tahun, sedangkan yang melalui
penyambungan antara 5-6 tahun.
Buah sawo kadang-kadang matang tidak serempak sehingga pemanenan dilakukan
dengan bertahap dengan cara memilih buah yang sudah menunjukkan ciri fisiologis
untuk dipanen (tua). Ciri-ciri buah sawo yang sudah tua adalah ukuran buah
maksimal, kulit berwarna cokelat muda, daging buah agak lembek, bila dipetik
mudah terlepas dari tangkainya, serta bergetah relatif sedikit. Pemetikan buah yang
masih muda sebaiknya dihindari karena memerlukan waktu yang lama untuk
pemeramannya dan rasa buah tidak manis (sepat).
8.2. Cara Panen
Umumnya pohon sawo cukup tinggi, buahnya terdapat di ujung batang muda yang
jumlahnya hanya sedikit, sehingga untuk mengetahui buah yang cukup tua sangat
sulit. Oleh karena itu, pemanenan dilakukan dengan cara memanjat pohon. Apabila
belum mencapai buahnya, dapat disambung dengan galah. Namun penggunaan
galah ini sering menyebabkan buah jatuh dan pecah.
Pada buah yang jatuh tetapi tidak pecah, akan terjadi penggumpalan getah di sekitar
bijinya. Ada anggapan bahwa penggumpalan getah ini disebabkan karena buah
terserang penyakit. Walapun terdapat gumpalan getah di sekitar biji, tetapi tidak
mengurangi rasa manis buah sawo tersebut.
Untuk menjaga agar buah tidak pecah sewaktu dipetik, sebaiknya sebelum
pemetikan, pada bagian bawah pohon diberi jaring agar buah tidak langsung jatuh ke
tanah dan sebaiknya pemetikan dilakukan sebelum buah terlalu tua.
9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Setelah semua buah yang sudah tua dipanen, kemudian dilakukan pengumpulan
buah-buah tersebut. Kumpulkan buah-buah tersebut dalam suatu wadah atau
tempat, setelah semua terkumpul, kemudian dilakukan pencucian untuk
menghilangkan kulit yang kasar atau kulit gabusnya.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 15/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Penyortiran dan penggolongan buah sawo hasil panen dilakukan untuk memisahkan
buah yang baik dari yang jelek dan memisahkan buah yang berukuran sama. Untuk
buah yang sudah sangat rusak, sebaiknya dibuang, tetapi buah yang rusak sedikit
dapat dipisahkan untuk dijual ketempat yang dekat dengan harga murah.
9.3. Penyimpanan
Buah sawo yang sudah diberi perlakuan (pencucian dan pengasapan) mempunyai
kulit yang sangat tipis sehingga mudah rusak dan tidak tahan lama dalam
penyimpanannya. Ada beberapa cara penyimpanan agar buah lebih tahan lama,
salah satunya dengan mengatur temperatur ruang penyimpanan.
Buah sawo yang masak bila disimpan dalam temperatur ruang hanya tahan 2 hari
sampai 3 hari, tetapi bila dalam ruangan yang mempunyai temperatur 0 derajat C,
buah sawo tetap dalam keadaan baik selama 12 hari sampai 14 hari. Kelembaban
(nisbi) yang dibutuhkan dalam ruang penyimpanan adalah 85-90%. Buah sawo yang
yang belum masak akan tahan disimpan selama 17 hari dalam ruangan yang
bertemperatur 15 derajat C.
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
1) Pengemasan
Pengemasan buah-buahan di Indonesia, masih menggunakan keranjang bambu.
Bentuk dan kapasitasnya bervariasi, biasanya kapasitas kemasan antara 40 kg
sampai 100 kg. Dalam pengemasan buah digunakan bahan-bahan pembantu,
misalnya daun kering, daun pisang, merang, dan kertas koran.
2) Pengangkutan
Umumnya, petani penghasil buah di Indonesia mengangkut hasil panennya
dengan kreativitas sendiri. Pengangkutan hasil ini dalam volume kecil, yaitu dari
ladang ke tempat penampungan, pembeli, atau ke pusat-pusat pengumpul
sehingga pemasaran tahap pertama dapat berlangsung.
9.5. Pengasapan dan Pemeraman
Pengasapan dan pemeraman dilakukan agar buah cepat masak dan empuk. Tata
laksana pengasapan dan pemeraman adalah sebagai berikut:
1) Buat lubang pada tanah berbentuk segi empat. Ukuran lubang disesuaikan
dengan jumlah buah sawo.
2) Hamparkan dan gamal (Glyricidae) atau daun pisang di bagian dasar dan semua
sisi lubang.
3) Masukkan buah sawo secara teratur ke dalam lubang, kemudian tutup dengan
daun gamal atau daun pisang.
4) Masukkan potongan bambu gelondongan untuk menghembuskan asap ke dalam
lubang.
5) Timbun lubang tanah hingga cukup tebal.
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 16/ 19
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6) Bakar dedaunan kering, lalu asapnya diarahkan ke dalam lubang melalui
potongan bambu.
7) Tutup atau ambil gelondongan bambu.
8) Biarkan buah sawo diperam selama sehari semalam.
9.6. Penanganan Lain
Buah sawo dapat diawetkan dalam air gula atau dibuat selai untuk pengoles roti, dan
dapat juga dibuat serbat atau dicampur ke dalam es krim. Sari buah sawo dapat
digodok menjadi sirup dan difermentasikan menjadi anggur dan cuka.

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.