Juventus 1995-96: Kejayaan Sesungguhnya

PERTENGAHAN dekade 1990 menjadi masa terindah bagi Juventus. Mereka menggenggam kebanggan sebagai klub terbesar, sekaligus terbaik di Italia maupun Eropa. Bahkan, Juventus juga memproklamirkan diri sebagai tim terbaik dunia.

Tepatnya di musim 1995-96, kelengkapan itu benar-benar dirasakan oleh I Bianconeri. Setelah sukses meraih scudetto semusim sebelumnya, Juventus merasa menapaki puncak kejayaan sepak bola. Hampir semua gelar bergengsi berhasil diboyong ke rak piala Nyonya Tua. Selain Liga Champions, I Bianconeri juga sukses menggondol Piala Super Italia, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental.

“Sukses itu benar-benar membahagiakan. Inilah gelar Liga Champions yang sesungguhnya yang bisa kami rayakan hingga ke hati. Sedangkan gelar pada 1984-85 tidak pernah kami anggap sebagai kemenangan. Sekarang kami baru bisa merasakan kemenangan di tingkat Eropa itu,” kata pejabat Juventus, Roberto Bettega, seusai timnya menjuarai Liga Champions 1995-96 di Stadion Olimpico, Roma.

Gelar Liga Champions merupakan sukses kedua Juventus sepanjang sejarah. Dan, maknanya dianggap begitu dalam. Gelar itu menjadi kebanggaan, simbol kebesaran, sekaligus menebus dan menghabpus kesedihan Liga Champions 1985.

Sebagai info, Juventus pertama kali juara Liga Champions pada musim 1984-85 di Stadion Heysel, setelah mengalahkan Liverpool 1-0. Tapi, kemenangan itu diwarnai kesedihan panjang buat Juve dan warga Turin. Betapa tidak, sebelum pertandingan suporter Juventus bentrok dengan suporter Liverpool. Sebanyak 39 orang tewas dan semua dari pihak Juventus.

Maka, kemenangan di 1985 itu dianggap menyedihkan dan Juventus tak pernah merayakannya. Melainkan memperingatinya sebagai hari berkabung. Sebaliknya, gelar 1996 dipersembahkan kepada semua Juventini sebagai kejayaan yang pantas dirayakan.

Kesuksesan Juventus di Liga Champions juga sangat diharapkan oleh pihak Vatican. Bahkan, untuk pertama kalinya Radio Vatican mengirimkan reporternya untuk meliput langsung partai Juventus lawan Ajax di Stadion Olimpico tersebut.

FAKTOR LIPPI
Sukses Juventus di tahun itu tak lepas dari kehadiran pelatih berbakat, Marcello Lippi. Pelatih yang didatangkan pada tahun 1994 ini mampu melakukan pembangunan tim yang sangat meyakinkan. Padahal, sebelumnya Juventus kehilangan Roberto Baggio yang dinilai para Juventini sebagai blunder.

Tapi tidak bagi Lippi. Penggemar cerutu ini yakin bisa membangun tim tanpa seorang bintang yang begitu menonjol. Baginya, cara bermain dan strategi yang tepat lebih penting daripada mengandalkan satu atau dua pemain bintang.

Kelebihan yang cukup menonjol dari Lippi adalah kemampuannya memompa semangat pemain. Dia juga dikenal menghormati pemain, selain dia sendiri punya karisma cukup besar di mata para pemainnya.

Di segi teknik, Lippi pintar dan cepat membaca kelebihan dan kekurangan pemain. Itu terlihat kala final Liga Champions 1995-96. Banyak pihak memfavoritkan Ajax sebagai juara bertahan untuk juara lagi. Apalagi, Ajax punya pertahanan yang bagus dan serangan yang tajam. Selama di Liga Champions, tim asuhan Louis van gaal tidak kalah dalam 18 partai dan baru kemasukan dua gol.

“Lippi bukan pelatih sembarangan. Sebelum menangani uventus, dia telah membuktikan bakatnya dengan membawa Napoli ke Piala UEFA. Dia nyaris dianggap pahlawan seperti Diego Maradona, karena perannya sangat menentukan. Napoli waktu itu tidak dipenuhi bintang besar,” jelas Presiden Juventus waktu itu, Vittorio Chiusano.

Kelebihan Ajax itu langsung diladeni serangan cepat oleh Lippi. Strateginya sukses. Pada menit ke-11, Fabrizio Ravanelli sudah membobol gawang Edwin van der Sar. Ajax butuh 30 menit untuk menyamakan kedudukan.

Meski sepanjang pertandingan Ajax hampir mendominasi, tapi Lippi menyimpan strategi di akhir pertandingan. Waktu tinggal 15 menit, dia kembali menerapkan strategi meneyrang. Nyaris sukses. Hampir lima peluang tercipta lewat Gianluca Vialli, Didier Deschamps, Alessandro Del Piero, Ravanelli dan Michele Padovano.

Kemampuan Lippi dalam meracik tim dan strategi itu berlanjut di kompetisi lain. Dia kembali membuktikan sebagai pelatih brilian kala membawa Juventus tampil di Piala Super Italia 1996, kemudian di tahun yang sama menghadapi River Plate.

Kala itu, Juventus juga terkesan kesulitan menghadapi wakil dari Argentina tersebut. Namun, Juventus mampu menahan setiap serangan lawan. Bahkan, strategi gebrakan akhir juga menghasilkan. Del Piero mencetak satu-satunya gol kemenangan pada menit ke-81. Gelar itu sekaligus melengkapi kejayaan Juventus.

Nyaris tak ada gelar yang tersisa. Kegagalan mempertahankan scudetto di musim 1995-96, tak terlalu mengecewakan karena Juventus mampu mengganti berbagai gelar yang bergengsi. Si Nyonya Tua tak hanya menjadi terbaik di Eropa, tapi juga dunia. Tak heran jika sukses di era itu benar-benar disyukuri I Bianconeri. Bahkan, era keemasan yang selalu dirindukan. (HPR)

Fakta Juventus 1995-96
Pelatih : Marcello Lippi
Skuad : Angelo Peruzzi, Ciro Ferrara, Moreno Torricelli, Pietro Vierchowod, Gianluca Pessotto, Antonio Conte, Vladimir Jugovic, Paulo Sousa, Angelo Di Livio, Didier Deschamps, Alessandro Del Piero, Gianluca Vialli, Fabrizio Ravanelli, Michele Padovano
Prestasi : Juara Liga Champions, Piala Super Italia, Piala Super Eropa, Piala Interkontinental

Revolusi ala Vittorio Chiusano

Pada 5 Februari 1990, Presiden Juventus Giampiero Boniperti mengundurkan diri. Juventus pun terpukul, karena dia dianggap presiden terbaik. Di tangannya, Juventus kembali besar dan menjadi tim yang ditakuti di Italia dan Eropa, selain beberapa gelar telah dia hadirkan.

Maka, Vittorio Chiusano yang menggantikannya membawa beban berat. Dia minimal harus bisa menyamai prestasi pendahulunya. Chiusano tak gentar. Dia melakukan revolusi cukup berani di tubuh Juventus.

Di eranya, banyak pemain bagus yang dihadirkan. Sampai pada 1995-96, setidaknya sudah ada 10 bintang berpengaruh yang dia datangkan. Mereka masing-masing Roberto Baggio, Dino Baggio, Gianluca Vialli, Fabrizio Ravanelli, Paolo Sousa, Alessandro Del Piero, Angelo Peruzzi, Didier Deschamps, Antonio Conte, dan Ciro Ferrara.

Yang tak kalah menentukan tentu menghadirkan pelatih Marcello Lippi. Padahal, sebelumnya tak ada yang terlalu optimistis terhadap Lippi. Dia belum teruji membawa klub besar. Namun, Chiusano tahu persis betapa besar potensi dan bakat Lippi sebagai pelatih.

Faktanya, di era Lippi pula Juventus banyak mendapat kebesaran. Sukses di tahun 1995 dan 1996 merupakan bukti besar. Baru dua tahun melatih, Lippi langsung mempersembahkan lima gelar bergengsi, termasuk scudetto. (*)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s